JAKARTA, inLensa.id – Meski rupiah ambruk ke Rp16.955 per USD—terlemah sepanjang masa—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cetak ATH 9.133,87 pada 19 Januari 2026, naik 0,64%. Fenomena ini, kata Menteri Keuangan Purbaya, bukti fundamental ekonomi solid meski kurs bank capai Rp17.000+.
Pasar mata uang bergolak jelang RDG BI 20-21 Januari, dengan spekulasi independensi akibat calon Deputi Gubernur Thomas Djiwandono. Trump ancam tarif Eropa 10%, tambah tekanan global pada emerging currencies.
Sektor saham perbankan seperti BBCA dan BMRI pimpin kenaikan, ditopang ekspektasi BI tahan suku bunga. Analis: “Flow asing ke ekuitas lindungi dari pelemahan rupiah.” BI konfirmasi pengunduran diri Juda Agung.
Proyeksi: Rupiah fluktuatif Rp16.950-16.980 minggu depan. Investor disarankan diversifikasi ke obligasi dan emas. Inflasi diprediksi tetap rendah 2,5%.





